Tampilkan postingan dengan label Berita Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Februari 2010

Desakan Agar Calon Ketum PBNU Bersih dari Politik



Desakan agar organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tidak dipimpin oleh tokoh yang didukung kepentingan elit politik terus bergulir. Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang akan menggantikan KH Hasyim Muzadi tidak akan dipilih bila didukung elit partai politik.

"Mencermati perkembangan kandidat Ketua Umum PBNU, saya melihat sudah mulai semarak dan ada kecenderungan elit-elit partai politik memihak dan mendorong menjagokan ke calon-calon tertentu," kata Wakil Sekjen PBNU Syaiful Bahri Anshori kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/2/2010).

Oleh karena itu, lanjut Syaiful, dirinya merasa perlu menyampaikan bahwa ketua umum PBNU mendatang adalah sosok yang mampu mengayomi semua warga NU yang ada di mana-mana. "Juga mampu membawa payung besar NU agar semua warga NU merasa tenang dengan Ketua Umum baru nanti," jelas dia.

Di samping itu, menurut Syaiful, ketua umum PBNU mendatang haruslah sosok kader yang secara manajerial bisa menjalankan roda organisasi dengan baik. Sosok tersebut sebenarnya harus bisa melanjutkan manajemen yang sudah baik di era KH Hasyim Muzadi.

"Oleh karena itu, kandidat yang didukung partai politik akan sulit didukung oleh wilayah dan cabang, sebab mereka sebenarnya sudah tahu kebutuhan NU ke depan," ungkapnya.

Sebelumnya desakan serupa diungkapkan politisi NU, yang juga mantan aktivis GP Ansor, Taufikurrahman Saleh agar warga NU waspada dan hati-hati pada elit politik menjelang Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan, 22-27 Maret 2010. Para elit politik ini dikabarkan akan mendekati dan mempengaruhi agar mendukung salah satu tokoh calon ketua umum PBNU.

Minggu, 21 Februari 2010

Menara Masjid Tua di Maroko Runtuh, Belasan Orang Tewas



Sebuah menara masjid tua berusia lebih kurang empat abad, runtuh di Maroko pada hari Jumat kemarin (19/2), menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai lebih dari 50 jamaah masjid, kata pejabat rumah sakit dan saksi mata yang melihat kejadian tersebut.

Lebih dari 80 orang masih terperangkap di bawah reruntuhan dan tentara berusaha bekerja keras untuk menjangkau mereka dan mengeluarkan mereka dari reruntuhan, kata Khaled Rahmouni, seorang penduduk di kota Meknes di mana masjid tua itu runtuh.

"Sekitar 300 jamaah berkumpul di dalam masjid untuk shalat pada Jumat siang kemarin. Ketika imam (khatib) akan memulai khotbah jumatnya, tiba-tiba menara masjid runtuh," katanya melalui telepon.

Menara masjid Lalla Khenata runtuh di Bab al-Bardiyine tua sekitar Meknes, yang berjarak sekitar 140 km (80 mil) barat daya kota Rabat Maroko.

Kejadian runtuhnya bangunan tua di kota-kota yang ada di Maroko, cukup sering terjadi, namun runtuhnya menara masjid bisa dikatakan jarang terjadi.

Update terakhir sabtu (20/2), jumlah yang tewas akibat runtuhnya menara masjid di Maroko menjadi 35 orang yang tewas. (fq/aby)

Dipaksa Sujud, Anak Palestina Katakan "Haram Sujud Selain Kepada Allah!"


Sebuah laporan dari organisasi "B'Tselem" pada hari Sabtu kemarin (20/2) menyatakan bahwa pasukan pendudukan Israel telah mengintensifkan penangkapan terhadap anak-anak Palestina di sekitar kota Silwan, wilayah yang di duduki Israel.

Sedangkan menurut media center Palestina dalam laporannya mengatakan bahwa penangkapan yang dilakukan Israel berfokus pada anak-anak dari usia 12 sampai 15 tahun, para anak-anak tersebut harus mengalami interogasi dan bentuk-bentuk intimidasi seperti mata mereka ditutup dalam waktu yang lama dan disertai kata-kata ancaman kepada mereka.

Aksi heroik

Ditambahkan oleh Media Center Palestina, bahwa di antara anak-anak yang ditangkap terdapat seorang anak bernama Ahmad Syiam (12 tahun). Oleh para penyelidik Israel yang menginterogasi dirinya, Syiam diminta untuk bersujud kepada salah seorang penyidik, namun anak laki-laki tersebut menolak sambil mengatakan: "Haram sujud selain kepada Allah!"

Penyidik Israel karena emosi dengan ucapan anak tersebut, akhirnya dengan sengaja memukul leher si anak berulang kali.

Menurut laporan, sejumlah anak-anak yang telah ditangkap oleh aparat Israel, mengalami penyiksaan oleh penyidik Israel sehingga mereka mengalami sakit berupa memar di sendi, kaki dan tangan.

Pasukan Israel banyak menangkap anak-anak Palestina karena aksi mereka yang sering melempari tentara-tentara Israel dengan batu, anak-anak yang berhasil ditangkap akan dibawa ke kantor polisi dan akan di interogasi dengan "sedikit" penyiksaan. (fq/imo)

Kenakan Kaos "Free Palestine", Pelajar Prancis Diusir dari Sekolah



Seorang pelajar perempuan tahun ke enam sebuah sekolah menengah di Prancis timur mengalami pengusiran dan di skor selama tiga hari, karena mengenakan baju kaos bertulisan "Free Palestine".

Menurut laporan dari AFP, sekolah "Villefranche Sur Son" mengusir pelajar tersebut atas tuduhan mengkampanyekan kemerdekaan Palestina.

Hal ini terjadi setelah adanya perdebatan antara pelajar perempuan itu dengan guru sejarah yang bergelar profesor di sekolah pada tanggal 29 Januari yang lalu setelah sang profesor meminta pelajar tersebut mengganti kaosnya yang bertuliskan "Free Palestine".

Sekolah dalam sebuah suratnya kepada ibu dari pelajar tersebut menyatakan bahwa skoring akan diberikan kembali pada si pelajar pada minggu kedua bulan Maret, setelah pelajar itu kembali masuk sekolah setelah liburan musim dingin.

Di lain pihak, inspektorat kependidikan menyatakan mereka akan memeriksa kembali semua unsur dari file kasus ini dengan pihak administrasi sekolah, khususnya terkait dengan aturan sekolah yang telah menskor pelajar yang mengenakan kaos yang berkampanye tentang pembebasan Palestina.

Sebaliknya, komite para orang tua sekolah "Villefranche Sur Son" malah mendukung rakyat Palestina, dan mereka menyatakan salut kepada keberanian sang pelajar yang bernama Zainab yang berani menentang gurunya yang merupakan seorang profesor sejarah yang dituduh sangat pro terhadap Israel.

Zainab sendiri telah menerima surat dukungan lebih dari 1.300 surat, atas keberaniannya tersebut. (fq/imo)

Rabu, 21 Oktober 2009

112 Ribu Orang Dievakuasi di Waziristan Selatan



Para pengungsi (Foto: AFP)
Islamabad - Pakistan terus melancarkan serangan terhadap kelompok militan Taliban. Serangan difokuskan di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan, tepatnya di kota Waziristan Selatan. Akibatnya sebanyak 112 ribu orang di wilayah ini pun terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman.

"Jumlah total orang dalam proses evakuasi terakhir lebih dari 112 ribu orang," ujar juru bicara UN Refugee Agency (UNHCR/United Nations High Commissioner for Refugees) Ariane Rummery, seperti dilansir AFP, Selasa (20/10/2009).

Dikatakan dia, setiap warga yang mengikuti evakuasi selalu terdaftar dalam setiap pos yang ada, dan juga pada titik distribusi bantuan di kota Tank dan kota Dera Ismail Khan.

"Sekitar 4.477 keluarga atau sekitar 32 ribu orang, yang terdaftar sejak 13 Oktober ditambah sebanyak 11 ribu keluarga atau sekitar 80.500 orang, yang telah mengungsi dari Waziristan Selatan sejak bulan Mei," kata Ariane.

Menteri Informasi Pakistan Qamar Zaman Kaira mengatakan pemerintah selalu mengawasi proses evakuasi yang dilakukan. Setiap pos masuk dan keluar di Waziristan Selatan diperiksa dengan cermat.

Demikian halnya dengan setiap bantuan yang diberikan, akan selalu dikontrol dengan teliti. Setiap keluarga mendapatkan bantuan non-makanan sebesar 5 ribu rupee setiap bulan atau setara dengan Rp 1,02 juta.

"Kami akan segera menyalurkan bantuan baik berupa makanan maupun non-makanan selama 1 bulan bagi para pengungsi yang baru tiba segera setelah kami mendapat daftarnya," tutur Ariane.

Militer Pakistan meluncurkan serangan kepada militan Taliban yang berada di perbatasan Afghanistan sejak Sabtu (17/10/2009). Serangan ini dilakukan menyusul serangan dahsyat yang dilakukan oleh militan Taliban. Dalam satu hari, militan Taliban menyerang markas kepolisian di Peshawar, sebuah gedung milik PBB, markas militer di Rawalpindi dan 3 gedung fasilitas milik kepolisian di Lahore.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Tafsir Nyonji atas Musibah Sumbar

Setelah terjadinya gempa di Padang dan Jambi, bersliweran pesan-pesan via SMS ataupun jejaring sosial facebook, bahkan juga di blog-blog dan situs, upaya pengaitan waktu terjadinya gempa dengan ayat-ayat al-Qur’an. Meskipun berbeda-beda redaksi, salah satu di antara pesan itu adalah sebagai berikut;

“KETAHUILAH…. Gempa di Padang terjadi pada pukul 17.16, coba lihat QS. 17.16.. Kemudian gempa susulan terjadi pada pukul 17.58, lihat QS. 17:58.. Gempa di Padang terjadi pada tanggal 30 bulan 9, lihat QS. 30:9..”

Marilah kita tilik, apakah isi ayat-ayat tersebut? Terjemahan surat al-Isra’ (17) ayat 16 adalah;

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (al-Isra’:16)

Sedangkan surat al-Isra’(17) :58; Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu Telah tertulis di dalam Kitab (Lauh mahfuzh).

Kemudian surat Ar-Ruum (30) ayat 9: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku dzalim kepada diri sendiri.”

Tidak cukup sampai di sini, gempa jambi yang terjadi pada keesokan harinya pukul 08.52 juga dikaitkan dengan surat al-Anfal (8) ayat 52. Terjemahnya adalah;

“(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.”

Ayat-ayat tersebut dikait-kaitkan dengan peristiwa yang terjadi saat itu, yakni pelantikan anggota DPR dan MPR, sebagai salah satu tahapan demokrasi, yang menghabiskan lebih dari 70 Milliar. Pelantikan yang menghabiskan dana sebesar itu dinilai sebagai sebuah pemborosan.

Situs eramuslim dot com menganalisa keterkaitan itu dengan mengatakan, “Gaya hidup bermewah-mewah seolah disimbolisasikan dengan acara pelantikan anggota DPR yang memang WAH. Kedurhakaan bisa jadi disimbolkan oleh tidak ditunaikannya amanah umat selama ini oleh para penguasa, namun juga tidak tertutup kemungkinan kedurhakaan kita sendiri yang masih banyak yang lalai dengan ayat-ayat Allah atau malah menjadikan agama Allah sekadar sebagai komoditas untuk meraih kehidupan duniawi dengan segala kelezatannya (yang sebenarnya menipu).

Sedangkan berkaitan dengan surat al-Anfal dikatakan, “percaya atau tidak, para pemimpin dunia sekarang ini yang tergabung dalam kelompok Globalis (mencita-citakan The New World Order) seperti Dinasti Bush, Dinasti Rotschild, Dinasti Rockefeller, Dinasti Windsor, dan para tokoh Luciferian lainnya yang tergabung dalam Bilderberg Group, Bohemian Groove, Freemasonry, Trilateral Commission (ada lima tokoh Indonesia sebagai anggotanya), sesungguhnya masih memiliki ikatan darah dengan Firaun Mesir.

Setelah itu situs itu menegaskan, “Nah, bukan rahasia lagi jika sekarang Indonesia berada di bawah cengkeraman kaum NeoLib. Kelompok ini satu kubu dengan IMF, World Bank, Trilateral Commission, Round Table, dan kelompok-kelompok elit dunia lainnya yang bekerja menciptakan The New World Order. Padahal jelas-jelas, kubu The New World Order memiliki garis darah dengan Firaun. Kelompok Globalis-Luciferian inilah yang mungkin dimaksudkan Allah Swt dalam QS. Al Anfaal ayat 52 di atas. Dan bagi pendukung pasangan ini, mungkin bisa disebut sebagai “…pengikut-pengikutnya.”

Menarik bukan pengaitan suatu peristiwa dengan ayat-ayat al-Qur’an? Ya, menarik, karena memang tradisi perdukunan di kalangan bangsa ini masih sangat kental.

Tetapi kita harus sadar bahwa penerapan ayat-ayat al-Qur’an dengan cara menarik waktu, hari, atau mungkin bilangan lain dari suatu peristiwa adalah bukan cara yang diajarkan oleh Islam. Cara-cara seperti itu adalah cara yang biasa dilakukan oleh para dukun untuk meramalkan nomor buntut yang akan keluar. Konon orang bilang nyonji. Maka bolehlah cara memahami al-Qur’an demikian kita sebut sebagai tafsir al-Qur’an dengan metode Nyonji. Apakah hasilnya benar?

Penafsiran al-Qur’an yang tidak melalui metodologi yang benar, jika hasilnya benar pun dianggap sebagai suatu kesalahan. Memahami al-Qur’an bukan hanya sekedar melihat hasil, tetapi juga harus melihat proses. Kesalahan proses berakibat pada ditolaknya penafsiran, meskipun hasilnya bisa benar. Demikianlah yang diajarkan oleh para ulama’ berdasarkan kepada hadis nabi;

مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa dasar ilmu, maka hendaklah bersiap-siap menempati tempatnya di neraka (HR at-Tirmidzi)

Marilah kita lihat, apakah metode nyonji itu telah menghasilkan kesimpulan yang benar?

Kesan yang diperoleh dengan pencomotan al-Qur’an berdasarkan waktu-waktu terjadinya musibah itu maka muncul anggapan bahwa itu adalah suatu adzab yang ditimpakan oleh Allah kepada bangsa Indonesia. Bangsa ini layak mendapatkan adzab dari Allah karena pembesarnya hidup mewah serta ingkar kepada Allah.

Tetapi kalau dicermati sekali lagi ternyata kasusnya berbeda. Pada surat al-Isra’ ayat 16 itu dikatakan, ”Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. Padahal yang terjadi di Sumbar bukanlah kehancuran total sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Luth.

Demikian juga, kedurhakaan penduduk negeri ini tidak bisa disetarakan dengan Fir’aun dan bala tentaranya. Andaikata benar bahwa para pentolan IMF masih memiliki darah yang bersambung sampai kepada Fir’aun sekalipun, anggapan bahwa bangsa ini telah menjadi antek Fir’aun adalah berlebihan.

Jika benar bahwa Allah telah menurunkan adzab kepada bangsa ini, maka konsekuensinya sangat jauh. Kaum muslimin dilarang mendatangi negeri yang diadzab oleh Allah sebagaimana sabda nabi saw.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا مَرَّ بِالْحِجْرِ قَالَ لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ ثُمَّ تَقَنَّعَ بِرِدَائِهِ وَهُوَ عَلَى الرَّحْلِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra bahwa ketika Rasulullah saw. melewati wilayah Hijir, beliau berkata, “Janganlah kalian memasuki wilayah orang-orang zhalim yang telah diadzab Allah kecuali kalian menangis karena takut tertimpa musibah seperti yang telah menimpa mereka.” Kemudian beliau menutupi wajah dengan selendang beliau sedang beliau tetap berada di atas kendaraan beliau, (HR Bukhari [3380] dan Muslim [2980]).

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْن عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْضَ ثَمُودَ الْحِجْرَ فَاسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَاعْتَجَنُوا بِهِ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا وَأَنْ يَعْلِفُوا الْإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ تَابَعَهُ أُسَامَةُ عَنْ نَافِعٍ

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra bahwasanya orang-orang singgah bersama Rasulullah saw. di Hijir, negeri kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumur di sana dan menggunakannya untuk mengadon tepung. Rasulullah saw. memerintahkan mereka agar membuang air yang mereka ambil dari sumur di sana. Dan memerintahkan agar adonan tepung tadi diberikan kepada unta. Kemudian Rasulullah saw. memerintahkan mereka agar menggunakan air dari sumur yang disinggahi oleh unta-unta, (HR Bukhari [3379] dan Muslim [2981]).

Inti sari yang terkandung di dalam kedua hadis tersebut, di antaranya adalah;

1. Haram hukumnya menyinggahi negeri orang-orang yang mendapat adzab kecuali menangis karena takut tertimpa musibah yang telah menimpa mereka. Al-Baghawi menukil dalam Syarhus Sunnah (XIV/362) dari al-Khaththabi sebagai berikut, “Orang yang singgah di negeri kaum yang binasa karena ditenggelamkan atau diadzab bila tidak menangis karena kasihan terhadap mereka atau karena takut tertimpa adzab seperti yang telah menimpa mereka, maka ia akan menjadi orang yang keras hati dan kurang khusyu’. Bila seperti itu keadaannya, maka dikhawatirkan ia akan ditimpa musibah seperti yang telah menimpa mereka.”

2. Haram hukumnya memanfaatkan sesuatu pun dari airnya. Karena Rasulullah saw. memerintahkan para Sahabat untuk tidak meminum dari sumur-sumur di sana dan memberikan tepung adonan yang dibuat dengan air tersebut kepada unta-unta. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab FathulBaari (VI/380), “Demi-kian pula sumur-sumur dan mata air milik orang-orang yang binasa dengan adzab Allah atas kekufuran mereka.”

3. Al-Baghawi berkata (XIV/362), “Hadits ini merupakan dalil bahwa negeri orang-orang yang mendapat adzab tidak boleh dijadikan sebagai tempat tinggal dan negeri. Karena tidak mungkin ia terus menerus menangis selamanya di situ. Sementara ia dilarang singgah di situ kecuali menangis.”

Berdasarkan pemahaman terhadap hadis, maka jika gampa bumi yang terjadi di Padang dan sekitarnya adalah adzab, maka kaum muslimin dilarang mendatangi ke daerah itu kecuali dalam keadaan menangis. Kemudian, dilarang menjadikan kota Padang sebagai tampat tinggal dan memanfaatkan hasil buminya.

Pertanyaannya, bagaimanaah kalau membantu penduduk itu? Bagaimana hukumnya memberikan sumbangan?

Jika pergi ke tempat itu dilarang, maka memberikan sumbangan tentunya juga terlarang. Nab Nuh saja dilarang membantu anaknya yang tenggelam karena terkena adzab. Allah berfirman, “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud:45-46)

Selain dari itu itu, persoalan apakah gempa padang itu adzab dari Allah atau bukan, tidak bisa dipastikan, sebab tidak ada ketetapan dari al-Qur’an maupun hadis. Keyakinan adzab atau bukannya bagi suatu negeri harus didasarkan kepada dalil yang sharih. Dan jika ada tanda-tanda yang sangat jelas boleh disangka saja. Tetapi dalam kasus padang ini, adanya sangkaan adzab pun masih diragukan, sebab Allah berfirman; “Dan tidaklah Allah menurunkan adzab atas mereka sedangkan engkau ada di tengah-tengah mereka. Juga Allah tidak akan mengadzab mereka sedangkan mereka meminta ampun kepada Allah” (Al-Anfal : 33). Tidak adakah orang yang memohon ampun kepada Allah di kota Padang? Sebejat-bejatnya suatu masyarakat kaum muslimin, pasti masih ada sejumlah orang yang memohon ampunan sehingga adzab Allah tidak turun.

Memang kita layak untuk berintrospeksi, dan tidak selayaknya menghakimi bahwa peristiwa itu adalah adzab. Agar pemahaman ini adil dan benar, maka metode tafsir dan pengambilan ayat hendaklah tidak dengan mencomot berdasarkan angka-angka yang muncul dari suatu peristiwa.

GARA-GARA JENGGOT

Oleh: Burhan Sodiq.


HARI-HARI ini jenggot menjadi bahan kriteria razia baru. Meski belum pernah kena razia namun nampaknya boleh saja kita jaga-jaga. Siapa tahu jenggot yang cuma seukuran jagung ini bikin masalah dengan diri kita.

Pasca peledakan bom dua hotel mewah itu memang masyarakat menjadi sangat parno. Mereka ketakutan kalau di lingkungannya terdapat para tersangka teroris. Maka mereka pun mulai aktif melakukan banyak hal, di antara saling pasang mata dan pasang telinga. Para pendatang baru target penyelidikan, akankah mereka memiliki ciri-ciri seperti yang dibilang polisi selama ini. Berpeci, berjubah, berjenggot, berjilbab dan bercadar. Dalam rilisnya, sebuah LSM bahkan menyebutkan bahwa bisnis herbal thibbun nabawi, penerbitan buku islam, dan pesantren juga termasuk yang harus diawasi. Karena mereka bisa jadi menjadi soko guru terorisme nasional.

Tidak cukup itu, seorang pengamat terorisme yang konon juga dosen dalam sekolah intelijen menyebutkan, yayasan islam, baitul mal, lembaga zakat juga patut diwaspadai sebagai wahana pengumpul duit umat untuk membiayai aksi peledakan. Wow! Luar biasa sekali efeknya, sampai kemana-mana.

Seorang teman penyiar radio, sedang mencoba bisnis baru. Di rumah istrinya, ia termasuk warga yang baru. Bisnis barunya ini membutuhkan wahana persemaian berupa drum bekas bensin. Karena dia ke mana-mana memakai peci dan berjanggut, maka dia menjadi orang yang tertuduh di kampungnya. Masyarakat tiba-tiba menjadi pintar menghubung-hubungkan seolah wartawan media massa televisi yang asal hubung itu. Unsur-unsur penguat dikumpulkan kemudian dihubung-hubungkan sekenanya. Pertama, dia aktif ke mesjid. Seperti diketahui pelaku pemboman, konon kata media massa adalah remaja masjid. Kedua, dia suka memakai peci dan berjanggut. Unsur kedua ini juga sama dengan para buronan yang katanya anak buahnya Noor Din M Top. Ketiga, dia orang baru, kata para aparat orang baru harus diawasi. Yang kelima yang paling dahsyat, dia membeli drum gede. Tidaklah wajar seseorang memberi drum gede di kampung itu. Lengkap sudah data-data yang dikumpulkan dan akhirnya masyarakat melaporkan ke polisi. Begitulah yang terjadi, padahal dia sama sekali tak ada kaitannya dengan terorisme. Dia hanya ingin berbudi daya jamur, dan tong besar itu sebagai wahana persemaiannya.

Di belahan bumi lainnya, ada sebuah cerita yang lebih unik. Seorang suami dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki sebuah mall. Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak pengunjung yang menaruh curiga. Berpuluh-puluh pasang mata melihatnya. Seolah tersangka baru yang sedang melenggang di catwalk. Tapi mereka cuek cuek saja, toh mereka hanya ingin melihat pameran komputer saja.

Di bandara, seorang teman juga diperlakukan berbeda. Semua penumpang melenggang kangkung tanpa ada pemeriksaan berlebihan. Sementara temen saya ini harus diperiksa berlapis-lapis. Tubuhnya diraba-raba. Hanya karena jenggotnya terlalu panjang hingga ke dada.

Fenomena ini jelas membuat kita tertawa. Kenapa menjadi sedemikian massivenya. Kenapa atribut luar menjadi sedemikian mudah tervonis. Apakah jubah, jenggot dan segala asesorisnya selalu identik dengan pelaku peledakan? Logika awam saja bisa menjawab, kalau cctv yang ada di dua hotel itu tidak pernah menunjukkan bahwa pelaku berpakaian ala timur tengah.

Apakah ini ada nuansa anti timur tengah? Menolak segala yang berbau budaya arab. Menolak pakaian ala mereka dan memberi stigma seolah yang berasal dari Arab adalah kumuh dan terkait dengan terorisme. Sebaliknya, masyarakat dihasung untuk lebih suka memakai pakaian mini dan seksi sebagai ikon budaya barat yang disanjung dan dipuji.

Kalau memang orang ingin melakukan peledakan, tidak mungkin mereka akan mengenakan cadar dan jubah panjang. Persis seperti seorang intel polisi yang sedang bertugas. Ia tidak akan mungkin mengenakan baju seragam kebesarannya. Tetapi kenapa logika ini justru malah tidak terpakai?

Inilah fenomena yang membuat kita mengelus dada. Apa yang sedang terjadi sekarang justru tidak menambah kita yakin terorisme bisa tertumpas. Malah melebar menjadi perang budaya yang tidak ada manfaatnya. Memakai jubah, cadar dan berjenggot bukanlah kesalahan sebagaimana orang membawa bom atau senjata tajam. Tapi itu merupakan identitas seseorang saja, yang ingin lebih dekat dengan sunah rasulnya. Sebagaimana para pemuja barat yang mengenakan baju terbuka auratnya, sebagai tanda ingin dekat dengan artis yang mereka puja. So, jangan berlebihan melihat masalah, umat islam ini ingin sebuah ketenangan, bukan malah teror dalam wujud yang berbeda.

source : voa-islam.com

Belajarlah Menghargai Hidayah

Masihkah kita ingat dengan sosok seorang Sumayyah. Ia dikenal sebagai syahidah pertama dalam Islam. Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, Ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “Hai keluarga Yasir, sabarlah! kalian dijanjikan pahala surga.”

Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak.

Sumayyah memilih tetap bertahan. Meski ia bisa saja memilih kalah dan kembali kepada kejahiliahan. Tapi dia adalah seorang muslimah yang paham pilihan yang benar. Ia pilih mati sebagai syuhada pertama di sejarah Islam. Dan tentu saja pahalanya lebih besar, janah dan ridha Allah atas dirinya.Kini, kita juga dihadapkan pada sebuah peristiwa mengagumkan. Seorang wanita di abad ini yang tetap bertahan dengan jilbab yang dia kenakan. Marwah Al Sharbini, seorang muslimah berusia 32 tahun, yang ditikam sampai mati oleh pria 28 tahun asal Jerman dengan keturunan Rusia dalam ruang sidang di timur kota Dresden pada Rabu, 1 Juli 2009. Dia ditikam 18 kali, sebelum wanita hamil tersebut memulai kesaksiannya melawan pria yang melecehkan dirinya karena memakai hijab. Tragis!

Dua peristiwa ini menghentakkan hati kita tentang betapa hidayah begitu berharga bagi mereka. Karena mereka melihat bahwa tiada ilah yang wajib ditaati selain Allah. Tidak ada tujuan yang hendak dicari, kecuali hanya ridha Allah. Mereka akan berbuat apa saja, selama itu bisa mendatangkan keridaan Allah. Bahkan kalau pun mereka harus mati untuk mendapatkan ridha Allah, mereka pasti akan melakukannya.

Dari situ kita belajar, bahwa berislam berarti menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada ketentuan Allah. Apa yang Allah mau, apa yang Allah inginkan, kita akan berusaha melakukannya. Tanpa pamrih, tanpa embel-embel dan tanpa tuntutan apa pun. Kita juga akan sangat menghindari perkataan yang membuat Allah murka, tindakan yang membuat Allah tidak ridha kepada kita. Kita akan sangat berhati-hati dalam berkata-kata, dalam bersikap dan dalam beramal. Karena bagi kita hidayah Allah itu mahal, dan lebih berarti daripada hanya seonggok dunia.

Inilah nilai yang harus kita tanamkan kepada muslimah dan anak-anak gadis kita. Bahwa memegang erat hidayah, sama pentingnya dengan mendapatkan hidayah itu sendiri. Carilah hidayah dengan upaya terkeras kita, dan bila sudah mendapatkannya, jangan dilepas begitu saja. Pertahankan, dengan jiwa yang ada di raga.

Oleh Burhan Sodiq